~ Proses Pembuatan Batik Tulis ~

•November 19, 2009 • Leave a Comment
1) Nglowong, yakni menggambari kain dengan lilin, baik dengan menggunakan canting tangan maupun dengan  menggunakan cap (stample). Sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah. Jenis malam ini digunakan agar supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna coklat. Nglowong ada dua tingkatan yaitu: ngéngréng dan nerusi (menggambar pada pemukaan kain lainnya).

2) Nembok, proses hampir sama dengan nglowong tetapi lilin yang digunakan lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan zat warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan nglowong adalah nembok dimaksudkan untuk menahan warna, sedangkan nglowong dimaksudkan untuk menggambar dan menjadi tempat warna coklat setelah dikerok.


3) Wedelan, proses untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo (napthol) yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki.


4) Ngerok, untuk menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat. Ngerok dikerjakan dengan potongan kaleng dengan lebar kurang lebih 3 cm dan panjang kurang lebih 30 cm yang ditajamkan sebelah, lalu dilipat menjadi 2. Alat ini kemudian disebut dengan cawuk.


5) Mbironi, kain yang telah selesai dikerok bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecekan/titik-titik) perlu ditutup dengan lilin dengan menggunakan canting tangan, maksudnya agar bagian tersebut tidak kemasukkan warna lain bila di soga.


6) Nyoga, kain yang telah selesai dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak warna yang terbuat dari kulit kayu soga, tingi, tegeran, dll. Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian dianginkan sampai kering. Proses ini diulang-ulang sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan. Untuk warna yang tua sekali, proses ini dapat memakan waktu 1-2 minggu. Bila menggunakan zat pewarna kimia, proses ini dapat selesai 1 hari.

7) Mbabar/nglorot, untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara memasak dalam air mendidih yang ditambah dengan air tapioka encer agar lilin tidak melekat kembali ke kain.

~ Batik Lawasan ~

•October 17, 2009 • Leave a Comment

DSCI0113Kode Produk : PKBL-1001

Type : Batik Printing

Bahan : Katun

Ukuran : M, L

Harga : Rp. 55.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI0114

Kode Produk : PKBL-1002

Type : Batik Printing

Bahan : Katun

Ukuran : M, L

Harga : Rp. 55.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI0118

Kode Produk : PKBL-1003

Type : Batik Printing

Bahan : Katun

Ukuran : M

Harga : Rp. 55.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI3902

Kode Produk : PKBL-1004

Type : Batik Printing

Bahan : Katun

Ukuran : M

Harga : Rp. 55.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim




Pemesanan dapat dilakukan via :

Email :  djoko_a@yahoo.co.id

SMS : 08561991609

YM : djoko_a

Batik Oktober ’09 (III)

•October 6, 2009 • Leave a Comment

DSCI0104Kode Produk : PKBS-1001

Type : Batik Printing

Bahan : Katun Primis

Ukuran : L

Harga : Rp. 75.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI0105

Kode Produk : PKBS-1002

Type : Batik Printing

Bahan : Katun Primis

Ukuran : L

Harga : Rp. 75.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual




DSCI0106

Kode Produk : PKBS-1003

Type : Batik Printing

Bahan : Katun Primis

Ukuran : L

Harga : Rp. 75.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual


Pemesanan dapat dilakukan via :

Email :  djoko_a@yahoo.co.id

SMS : 08561991609

YM : djoko_a


Batik Oktober ’09 (II)

•October 5, 2009 • Leave a Comment

DSCI0100Kode Produk : PKBT-1005

Type : Batik Tulis (full)

Bahan : Katun Serat Nanas + Puring

Ukuran : L

Harga : Rp. 195.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual





DSCI0111

Kode Produk : PKBT-1007

Type : Batik Cap kombinasi Tulis

Bahan : Doby Halus

Ukuran : XL

Harga : Rp. 90.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual





DSCI0023

Kode Produk : 3G-1001

Type : Batik Tulis (Full)

Bahan : Primis Halus

Ukuran : L

Harga : Rp. 130.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual





DSCI0025

Kode Produk : 3G-1002

Type : Batik Tulis (Full)

Bahan : Primis Halus

Ukuran : L

Harga : Rp. 130.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual





DSCI0024

Kode Produk : 3G-1003

Type : Batik Tulis (Full)

Bahan : Primis Halus

Ukuran : L

Harga : Rp. 130.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim


Status : Sudah Terjual



Pemesanan dapat dilakukan via :

Email :  djoko_a@yahoo.co.id

SMS : 08561991609

YM : djoko_a

Batik Oktober ’09

•October 3, 2009 • 2 Comments

PKBT-1001

Kode Produk : PKBT-1001

Type : Batik Tulis

Bahan : Katun Primis

Ukuran : M, L, XL

Harga : Rp. 85.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI0110

Kode Produk : PKBT-1002

Type : Batik Tulis

Bahan : Katun Primis

Ukuran : L

Harga : Rp. 85.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim





DSCI0107

Kode Produk : PKBT-1003

Type : Batik Tulis

Bahan : Katun Primis

Ukuran : L

Harga : Rp. 85.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual




DSCI0121

Kode Produk : PKBT-1004

Type : Batik Tulis

Bahan : Katun Primis

Ukuran : M

Harga : Rp. 75.000 *

* harga belum termasuk ongkos kirim

Status : Sudah Terjual



Pemesanan dapat dilakukan via :

Email :  djoko_a@yahoo.co.id

SMS : 08561991609

YM : djoko_a

Teknologi Batik, dari Ngrengreng Hingga Nyoga

Repro dari Batikrapport‘);” width=”70″ border=”0″ height=”52″ hspace=”2″>Repro dari Batikrapport‘);” width=”70″ border=”0″ height=”52″ hspace=”2″>

Teknologi batik di Jawa merupakan suatu contoh keberhasilan inovasi teknologi impor menjadi teknologi tradisional.
Rabu, 14 Oktober 2009 | 12:14 WIB

INDONESIA baru saja mendapat pengakuan dunia atas teknologi di bidang tekstil, yaitu teknologi batik yang pernah berkembang menjadi industri rakyat di Pulau Jawa. Teknologi batik mengikuti keris dan wayang yang sudah terlebih dahulu masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Teknologi batik adalah teknologi memroses kain dengan memberikan berbagai desain motif dan warna pada kain tersebut. Teknologi batik di Jawa merupakan suatu contoh keberhasilan inovasi teknologi impor menjadi teknologi tradisional.

Teknologi batik bisa dipahami demikian, sebuah teknologi dasar mencetak desain motif pada kain menggunakan bahan malam (lilin/wax) diperkirakan tiba di Nusantara, khususnya Jawa pada abad 12 dari Kalingga, India. Canting, alat menggambar berbentuk seperti pulpen yang diisi lilin panas, mungkin datang bersama teknik batik dari India pula. Selain kedua hal itu, seluruh teknologi membatik adalah hasil inovasi orang di Jawa. Begitulah Sahari Besari menulis dalam buku Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi.

Sebut saja teknologi mencuci kain dan menggodok dengan minyak, menggambar desain motif dengan canting dan bahan lilin panas (ngrengreng) dan nembok; memberi warna biru (medel atau celep); membuang malam dari kain (nglorod atau ngerok); menutupi lagi bagian kain yang dipertahankan berwarna biru dengan canting (mbironi); memberi warna cokelat (nyoga); kembali proses nglorod; membersihkan sisa bahan lilin dan melipat kain. Pada kira-kira tahun 1850 revolusi teknologi batik terjadi, di mana orang di Jawa menginvensi stempel cap (printing) yang terbuat dari perunggu.

Membatik semula bukanlah industri, ia adalah bentuk kerajinan tangan rumah tangga yang biasa dilakukan perempuan di perkotaan. Di masa lampau, membatik biasanya dikerjakan di rumah pembesar Jawa, kaum ningrat. Dalam kisah pengalamannya mengunjungi Istana Sultan Agung pada 1606, Rijckloff van Goens menyebut, melihat 4.000 perempuan yang sedang membatik di sana. Pada awal abad 19 membatik berkembang menjadi industri kerajinan rakyat, ini terjadi di Kerajaan Jawa di mana membatik semula adalah kerajinan rumah tangga.

Di Jawa, industri batik bisa ditemukan di Cirebon, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pekalongan, Semarang, Juwana, Lasem. Tentu saja Yogyakarta dan Surakarta, menjadi pusat batik konservatif – motif klasik dengan warna biru dan cokelat soga. Selain di Yogyakarta dan Surakarta, industri biasanya dimiliki oleh kaum Tionghoa sementara para pekerja adalah pribumi.

Industri batik mengalami surut di masa PD II karena kesulitan mendapatkan bahan. Di Batavia, tercatat tokoh Tionghoa yang berperan di Indonesia (Tokoh- tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia). Ia adalah Lim Hiong Tjheng. Awalnya ia hanyalah pekerja di pabrik batik di Palmerah pada sekitar 1924. Namun kemudian ia malah memiliki pabrik batik sendiri bernama Hajadi dan hingga kini masih beroperasi.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

~ JENIS MALAM (LILIN) BATIK DAN FUNGSINYA ~

•October 1, 2009 • Leave a Comment

gambar-deplujunior121) Malam carik, warna agak kuning dan sifatnya luntur tidak mudah retak, lekatnya hebat, fungsinya untuk membuat batik tulis halus.
2) Malam gambar, warna kuning pucat dan sifatnya mudah retak, fungsinya untuk membuat remekan (efek warna cetak).
3) Malam tembokan, warna agak coklat sedikit, sifatnya kental dan berfungsi untuk menutup blok (putih).
4) Malam biron, warna lebih coklat lagi dan berfungsi untuk menutup warna biru.

~ Penggolongan Motif Batik ~

•March 25, 2009 • Leave a Comment

kataloggambar00545enlargePada hakikatnya, motif batik tradisional dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu motif geometris dan motif nongeometris. Motif goemetris (ragam hias ilmu ukur), berawal dari ketentuan tertentu, seperti berujud garis-garis, segitiga, segi empat, cêplok, dan sebagainya. Ragam hias yang termasuk motif geometris adalah motif banji, cêplok, kawung, anyaman dan limar, dan garis miring atau parang dan udan liris. Motif nongoemetris adalah ragam hias yang tidak terikat oleh bentuk-bentuk ilmu ukur dan biasanya tersusun dari ornamen tumbuh-tumbuhan, seperti: motif semen dan buketan-terangbulan, meru, pohon hayat, candi, binatang, burung, garuda, ular atau naga.6

Motif semen tersebut dapat digolongkan menjadi 3 macam, antara lain sebagai berikut.
1) Motif semen yang tersusun dari ornamen tumbuh-tumbuhan, yaitu: bagian bunga atau kuncup dan daun.
2) Motif semen yang tersusun dari ornamen tumbuh-tumbuhan dan binatang, yaitu: bagian bunga atau kuncup dan daun, serta binatang.
3) Motif semen di mana bentuk ornamennya berupa tumbuh-tumbuhan, binatang dan lar-laran atau binatang bersayap.